Panggil Aku Bunda

Tahajudku sudah selesai, sudah pula kupanjatkan doa memohon diberi ketenangan hati, namun isak tangisku tak juga mau berhenti. Ya Allah, aku sudah berusaha untuk ikhlas menerima cobaan ini. Bukankah apa yang sudah terjadi adalah takdir-Mu? Tetapi mengapa hatiku masih terasa pedih menerimanya. Apa kekuranganku ya Allah, sehingga Engkau tidak mempercayai aku untuk memiliki seorang anak. Tidak lengkap rasanya hidupku sebagai seorang wanita jika tidak bisa memiliki anak.
Tiga tahun sudah aku menikah, namun belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Tahun pertama, aku masih belum cemas. Aku masih menikmati kehidupan perkawinanku bersama suamiku, Mas Irfan. Dua belas bulan pertama adalah bulan madu bagi kami. Sepertinya kami ingin menebus waktu kami yang dulu seharusnya kami lewati bersama.
Dulu kami sempat menjalin hubungan selama hampir setahun bahkan kami hampir menikah. Namun ternyata takdir berbicara lain, kami terpaksa berpisah. Tepatnya Mas Irfan meninggalkanku. Dia harus menikahi wanita lain pilihan ibunya. Perjodohan antara keduanya memang telah dirancang oleh orangtua keduabelah pihak sejak Mas Irfan masih remaja, sebelum ayahnya meninggal. Ibunya merasa janji yang telah terucap untuk saling mengikat anak-anak mereka dalam pernikahan harus ditepati, tanpa mempertimbangkan apakah anak-anaknya ini mau atau tidak dijodohkan. Aku memang sudah tahu sejak awal hubungan kami bahwa dia sudah dijodohkan. Namun menurut Mas Irfan dia telah menolak perjodohan itu dan berharap dengan berjalannya waktu ibunya akan setuju dengan pilihannya sendiri, yaitu aku.
Jodoh adalah rahasia Allah. Walaupun aku yakin kami berdua berjodoh, pada kenyataan Mas Irfan tak kuasa melawan kehendak ibunya. Menurut aku dia memang kurang bisa bersikap tegas, apalagi terhadap ibunya yang keras kepala. Akhirnya dia menikahi wanita pilihan ibunya itu. Sakit memang menerima kenyataan itu, padahal aku merasa dialah pasangan sejati yang Allah berikan buatku. Butuh waktu yang lama untuk mencoba berdamai dengan takdirku.
Lama aku tidak bertemu dengannya sejak dia memutuskan hubungan kami. Aku memang tidak pernah mau menghubunginya, salah satu caraku untuk melupakan dia walaupun itu tidak berhasil.
Aku bertemu lagi dengannya enam bulan setelah perceraiannya, dia yang menghubungi aku. Mas Irfan bercerita bahwa penikahannya hanya bertahan dua tahun. Tidak ada cinta dalam pernikahan kami, yang ada hanya pertengkaran yang hampir terjadi setiap hari. Itu katanya alasan mereka berpisah. Dari Mas Irfan aku tahu bahwa akhirnya ibu dan mertuanya sadar bahwa mereka telah memaksakan kehendak kepada anak-anaknya untuk menikah. Dari pernikahannya itu telah hadir seorang anak perempuan namanya Tiara, sekarang usianya hampir 5 tahun. Sejak mereka bercerai, Tiara ikut ibunya tinggal di Bandung.
Pertemuan itu menghidupkan lagi perasaan cintaku yang dulu. Perasaan yang aku pendam rapat-rapat dalam hati. Tanpa menunggu waktu lama dia melamarku. Akan tetapi aku tidak langsung menerima lamarannya. Walaupun aku masih mencintainya, dan aku pun tahu dia tidak pernah berhenti mencintaiku, namun status dudanya dengan satu anak membuatku ragu-ragu. Butuh waktu beberapa bulan, sampai akhirnya hatiku mantap menerima lamarannya.
“Aku mau menikah denganmu, tapi dengan satu syarat. Aku tidak mau anakmu tinggal bersama kita. Kamu boleh menafkahinya, memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi aku tidak mau mendengar apa pun tentang anakmu. Mas bisa menemuinya, asal jangan bawa dia bertemu denganku.”
Kejam memang kedengarannya, tapi rasa egoku terlalu besar untuk menerima kenyataan bahwa Mas Irfan pernah menikah dan sudah mempunyai anak. Hatiku terlalu sakit ketika dia memilih menikahi wanita lain, yang aku tahu tidak dia cintai. Walaupun dia lakukan itu dengan terpaksa karena tidak mau melawan orangtua, tetapi tetap saja aku kecewa karena dia tidak memilih aku. Buatku dia harus menjadi Irfan yang dulu seperti kali pertama aku mengenalnya, tanpa embel-embel status dudanya. Akhirnya dia menerima persyaratanku dan kami pun menikah.
Apakah ini balasan buatku? Mungkin Allah marah karena aku menolak keberadaan anak Mas Irfan. Enam bulan yang lalu doker memvonis aku terkena kanker ovarium. Rahimku diangkat dan hilanglah impianku menjadi seorang ibu.
Beruntung aku memiliki suami seperti Mas Irfani, dia begitu tegar, pengertian dan bisa menerima keadaanku.
“Cintaku tidak akan pernah berubah, walaupun kamu tidak bisa punya anak. Aku dulu pernah berbuat kesalahan meninggalkan kamu, dan sekarang itu tidak akan aku lakukan lagi,” kata-katanya yang menghiburku masih tidak bisa menghilangkan rasa sedihku.
“Risa, kamu tidak mau tidur lagi? Subuh masih lama” Mas Irfan terbangun. Dia tahu aku masih menangis. “Sudahlah Ris, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kita hanya bisa berdoa mohon kekuatan, ketabahan, dan berusaha menjalani hidup seperti yang sudah digariskan oleh-Nya.” Ucapnya tenang sambil memelukku. Salah satu yang kukagumi darinya adalah sifatnya yang tenang dan sabar, yang mampu mengimbangiku yang emosional dan keras kepala. Mungkin karena sifat kami yang bertolak belakang membuat kami cocok satu sama lain.
***
“Risa, Aku harus ke Bandung hari ini. Kamu di mana?” suara Mas Ifran di HP-ku. Aku baru saja tiba di rumah, tadi pagi aku ke butikku, mengecek baju-baju desainku yang baru selesai dijahit. Memiliki butik yang menjual baju-baju rancanganku adalah impianku yang baru terwujud setelah aku menikah. Sebelumnya aku bekerja sebagai desainer di suatu perusahaan garment.
“Aku baru sampai rumah. Tugas kantor? mendadak sekali” Kataku. Seingatku tadi pagi dia tidak ada rencana ke luar kota.
“Bukan. Arni masuk rumah sakit” suaranya terdengar khawatir. Arni adalah mantan istrinya.
“Dia punya suami kan, kenapa harus kamu yang repot kesana. Apa dia tadi telepon pengen dijenguk kamu” kataku ketus. Ada rasa cemburu kenapa dia begitu perhatian pada Arni.
“Jangan salah paham, bukan itu masalahnya. Tadi Ridwan, suaminya yang telepon aku. Arni kecelakaan, ditabrak mobil ketika menyebrang jalan. Sekarang masih di ICU. Dia minta aku datang ke Bandung untuk menjemput Tiara. Di sana tidak ada yang ngurus dia. Kebetulan kan sekarang liburan sekolah, jadi dia bisa tinggal sementara dengan kita” Jelas Mas Irfan.
“Mas kamu masih ingat janji kamu untuk…”
“Untuk tidak membawa Tiara tinggal bersama kita?” potongnya tak sabar. “Ris, ini kan sementara. Kamu kok tega. Masa sih syaratmu tiga tahun yang lalu tidak bisa dirubah untuk kondisi tertentu seperti sekarang” Mas Irfan terdengar kesal.
“Ada neneknya kan” jawabku keras kepala.
“Sudahlah, kita bicara di rumah. Aku pulang sekarang, sore nanti aku berangkat ke Bandung” Mas Irfan mengakhiri pembicaraan kami di telepon.
“Ris, aku mau kamu ikut aku ke Bandung. Kita sama-sama jemput Tiara sekalian jenguk Arni” Bujuk Mas Irfan tak lama setelah dia tiba di rumah.
“Nggak, aku nggak mau ikut. Kamu rupanya nggak peduli kalau aku nggak setuju anak itu tinggal sama kita” sifat keras kepalaku mulai muncul.
“Risa aku minta maaf kalau yang aku lakukan ini nyakitin kamu. Tapi aneh rasanya aku sebagai ayah kandungnya tidak mau merawatnya sementara ibunya terbaring di rumah sakit. Aku minta kamu mengerti “ tuturnya dengan pandangan memohon.
Aku terdiam. Aku tahu Mas Irfan benar. Sebagai ayahnya dia wajib dan pasti ingin merawat anaknya. Namun bisakah aku menerima kehadiran anaknya di rumah ini? Bagaimana kalau aku membencinya, bagaimana kalau kehadirannya akan menimbulkan lagi rasa sakit hatiku yang dulu dan mengingatkanku bahwa aku tak akan penah bisa punya anak? Berbagai pikiran berkecamuk di benakku.
“Risa, dia Cuma seorang anak kecil, bukan musuh kamu. Kehadirannya tidak akan menyakitimu” Mas Irfan seperti tahu apa yang ada dipikiranku “Aku yang dulu menyakiti kamu, bukan Tiara. Boleh kan dia tinggal di sini sampai ibunya sembuh”
“Terserah kamu” jawabku pendek, masih dengan suara ketus. Aku tak tega melihat kesedihan di wajahnya. Mas Irfan segera berkemas. Dia akan menginap semalam katanya. Dia mengecup keningku sebelum pergi.
***
Sudah dua malam aku menginap di rumah ibuku. Setelah Mas Irfan pergi, aku akhirnya memutuskan ke rumah Ibu. Aku tinggalkan pesan untuk suamiku, kalau aku pergi ke rumah ibu dan tak usah dijemput. Aku belum siap melihat kehadiran anak Mas Irfan di rumah, tidur di kamar yang seharusnya untuk anak kami, anak yang tak akan pernah lahir dari rahimku.
Untungnya ibu bisa memahami perasaanku, jadi beliau tidak memaksaku pulang. Hanya saja ibu berpesan agar aku jangan terlalu lama meninggalkan suamiku. Mas Irfan sendiri hanya mengirim sms, mengingatkanku agar segera pulang. Pasti dia sedang bersenang-senang dengan anaknya sehingga tidak meneleponku. Sama seperti aku, aku yakin dia juga merindukan kehadiran seorang anak. Pasti kehadiran Tiara telah mengobati kerinduannya. Ada rasa kesal dan cemburu dihatiku.
Aku pamit pada ibu mau ke butikku. Tiba di butik, kudapati Mira dan Sinta pegawai di butik sedang mengobrol serius.
“Ngobrol apa sih, serius sekali kelihatannya?” tanyaku ingin tahu. Aku memang cukup dekat dengan para pegawaiku yang hanya 5 orang. Kami sudah seperti keluarga.
“Eh, Ibu sudah datang” Sambut Mira
“ Kasihan Wati, Bu. Suaminya mau kawin lagi” jawab Sinta
“Lho kalian tahu dari mana? Bukannya Wati baru punya anak?” Tanyaku terkejut. Wati memang sedang cuti melahirkan.
“Wati sendiri yang cerita. Semalam dia telepon saya nangis-nangis. Dasar laki-laki!” Ujar Sinta kesal.
“Apa alasannya? Sudah punya anak tiga kok mau kawin lagi” kataku jadi ikut kesal.
“Itulah Bu, alasannya karena ingin punya anak laki-laki. Dari Wati tiga anaknya perempuan semua” Mira ikut bicara..
“Masya Allah…”Seruku tak percaya. “Apa salahnya dengan anak perempuan. Bukannya bersyukur dikaruniai tiga orang putri” Aku geleng-geleng kepala.
Seharian aku jadi kepikiran cerita Mira dan Santi. Ibu benar, seharusnya aku bersyukur punya suami seperti Mas Irfan. Dia bisa menerima kekuranganku yang tidak bisa memberinya anak. Sementara banyak pria lain yang meninggalkan istrinya karena tidak bisa memberi mereka anak atau atau seperti suami Wati yang menginginkan anak laki-laki. Picik sekali pikirannya, kataku dalam hati. Picik… lalu apa bedanya denganku yang meninggalkan rumah hanya karena suamiku ingin merawat anaknya, aku jadi malu sendiri.
Tiba-tiba aku jadi merindukan suamiku. Aku ingin segera pulang, pulang ke rumahku bukan ke rumah ibu. Aku ingin menyambut Mas Irfan sepulangnya dia dari kantor. Kulirik jam ditanganku, hampir jam 4, kemudian aku bergegas pulang.
Kudapati di rumah Mas Irfan sedang bermain sepeda dengan dengan seorang anak kecil. Wajahnya cantik, pipinya gembul menggemaskan. Rambutnya ikal sebahu.
“Risa, kamu sudah datang” Mas Irfan tersenyum lebar menyambutku.
“Mas nggak ke kantor” Aku heran mendapati dia sudah di rumah.
“Aku ambil cuti. Kasihan kan Tiara kalau hanya ditemani Bi Surti” Jawaban Mas Irfan membuatku merasa bersalah. Aku memang egois, padahal aku tahu pekerjaan Mas Irfan sebagai kontraktor sedang sibuk-sibuknya.
“O iya, Tiara kasih salam sama Tante Risa” Mas Irfan menggandeng Tiara. Tiara tersenyum sambil mengulurkan tangannya dan mencium tanganku tanpa malu-malu. Senyumnya mirip Mas Irfan.
“Hai Tiara, kamu senang di sini?” aku mencoba bersikap ramah.
Tiara mengangguk “ Senang, Tante, Ayah beliin Tia sepeda” dia menunjuk sepeda mini barunya.
“Sekarang sudah sore, udahan dulu main sepedanya. Tia mandi ya sama Bi Surti. Nanti malam kita bertiga jalan-jalan” Kata Mas Irfan terlihat bahagia.
“Asyik” Tiara teriak kegirangan. Kita makan Pizza ya” Pintanya. Mas Irfan mengangguk, mengajak kami masuk ke dalam rumah.
“Bunda…Bunda…tungguin Tia” Teriak Tiara berlari-lari, tertawa-tawa mengejarku disebuah taman.
“Ayo kejar Bunda” Aku menggodanya juga sambil tertawa-tawa. Mas Irfan tersenyum bahagia melihat kami berkejaran Tapi kemudian Tiara terjatuh, dia menangis. Kami berdua berlari menghamprinya
“Sakit, Bunda…gendong Bunda” rengeknya sambil memegang lututnya yang sakit. Aku periksa lututnya, rupanya hanya lecet sedikit. Kemudian kugendong dia.
“Ris…Risa…bangun” Bahuku diguncang-guncang pelan. Aku terbangun, rupanya hanya mimpi. Mas Irfan yang membangunkanku. Apa sudah pagi, pikirku dalam hati. Kulihat jam di kamar kami, baru jam 1 malam.
“Ada apa mas” Tanyaku masih mengantuk.
“Arni meninggal dunia, baru saja suaminya telepon.” Suara Mas Irfan terdengar sedih bercampur panik.
“Inalilahi waina ilaihi rojiun “ Aku benar-benar terkejut. Rasa kantukku seketika menghilang. “Baru Mas meninggalnya?”
Mas Irfan mengangguk. “Mungkin 15 menit yang lalu. Memang terjadi pendarahan diotaknya akibat kecelakaan itu. Mungkin itu penyebabnya. Kita siap-siap ke Bandung malam ini juga”. Ujar Mas Ifran sebelum bergegas ke kamar mandi. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan berkemas.
Setelah selesai berkemas, aku masuk ke kamar Tiara. Mas Irfan berpesan agar Tiara tak usah dibangunkan. Digendong saja ke mobil, katanya. Tiara tertidur lelap. Memandang wajah polosnya membuatku sedih dan kasihan. Anak sekecil ini harus kehilangan ibunya. Kubelai pipinya lembut. Aku merasa berdosa sempat menolak kehadirannya. Mata hatiku telah tertutup perasaan benci yang tak beralasan selama ini.
Kuteringat mimpiku tadi, senangnya mendengar dia memanggilku Bunda. Perlahan kugendong tubuh mungilnya “Panggil aku Bunda, sayang” bisikku dalam hati. Tiara masih terlelap dalam pelukanku.

Leave a Reply