Bulan dan Bintang

•September 9, 2008 • Leave a Comment

Bulan

Bintang sedang jatuh cinta. Aku mengerti diusianya yang baru menginjak 17 tahun ini Bintang sedang mengalami masa puber. Seharusnya aku tidak perlu merasa khawatir berlebihan, tapi entah kenapa aku cemas melihat perkembangan Bintang. Mungkin kalau dia jatuh cinta pada lawan jenis seusianya, teman sekolah misalnya, aku masih bisa memaklumi. Tidak…tidak… aku meralat pikiranku sendiri. Bintang belum boleh jatuh cinta, tidak pada siapun. Dia masih terlalu muda untuk merasakan getirnya cinta.

Dalam hal ini suamiku, Raka bisa bersikap lebih tenang. “Rasa kekhawatiran kamu berlebihan. Lihatlah Bintang jadi menjauh dari kamu karena kamu marah hanya karena dia cerita kalau dia jatuh cinta.

Raka ada benarnya. Aku merasa Bintang mulai menjaga jarak denganku. Tidak pernah lagi dia cerita tentang kegiatan sekolahnya, teman-temannya atau tentang klub basketnya, tempat dimana masalah ini bermula.

Sejak  masuk SMA dia bergabung dengan klub basket di luar sekolahnya. Dari SMP dia memang hobi basket. Aku sama sekali tidak keberatan karena olahraga adalah kegiatan yang positif. Terlebih lagi pelajaran sekolahnya juga tidak terganggu walaupun dia aktif bermain basket di luar. Sampai pada suatu hari dia membuat pengakuan.

“Bunda, Bintang udah boleh pacaran kan?” Tanyanya manja.

Hatiku langsung berdebar mendengar pertanyaan Bintang. “Bintang lagi suka sama siapa? Tanyaku berusaha tenang. Bintang sering cerita tentang teman-temannya yang mulai pacaran. Tentang Ririn teman sebangkunya yang baru jadian sama Mario anak kelas tiga, Fitri yang lagi naksir Joe, atau Jesica cewek yang katanya paling cantik dan populer di sekolahnya yang sudah lima kali ganti pacar. Pernah juga dia cerita kalau Adrian temannya di klub basket suka padanya “Tapi Bintang tolak, Bintang nggak suka sama dia” Katanya waktu itu.

Inikah saatnya yang aku takutkan tiba, Bintang jatuh cinta, pacaran, dan…kejadian yang menimpa Reva sahabatku terulang.

“Bintang suka sama pelatih basket Bintang, Bunda” jawabnya malu-malu. Aku terdiam, berusaha menenangkan debar jantungku yang kian kencang. “Orangnya keren, baik lagi, Bunda. Perhatian sama Bintang” lanjutnya lagi.

“Apa dia sudah kuliah atau..”

“Kerja, tapi Bintang nggak tahu kerja dimana, katanya perusahaan advertising. Jadi pelatih basket cuma sampingan aja” jelas Bintang.

“Bintang, apa dia juga suka sama Bintang? Apa kalian sudah pacaran” Tanyaku hati-hati.

Bintang menggeleng, tersenyum malu. “Bintang nggak tahu, dia nggak pernah ngomong suka sama Bintang. Tapi Bintang bisa ngerasain kalo dia sayang dan perhatian sekali sama Bintang” wajahnya merona bahagia.

“Bintang, kamu nggak boleh suka sama dia” ujarku tegas. Bintang terkejut melihat reaksiku.

“Tapi Bunda…”

“Bintang, kamu masih kecil. Belum saatnya jatuh cinta. Lagi pula usia dia pasti jauh di atas kamu. Dia tidak pantas buat kamu! Terlalu tua untuk jadi pacar kamu!” aku menjadi gusar.

“Bunda…tapi Bintang suka sama dia. Bintang juga bukan anak kecil lagi!”

“Pokoknya Bunda nggak setuju kamu pacaran, kamu jangan ngelawan Bunda, ya! Aku jadi semakin marah 

“Bunda jahat, ini pertama kalinya Bintang jatuh cinta, tapi Bunda malah melarang Bintang” Matanya mulai memerah.

“Bintang…”aku kehabisan kata-kata “pokoknya kamu nggak boleh ikut basket lagi!”

Bisa ditebak, Bintang marah padaku. Bintang mengabaikan laranganku. Dia memang keras kepala, sama seperti aku. Bintang jadi menjauh dariku. Dia juga jarang bersenda gurau dengan Dio dan Raisha adik-adiknya yang masih kelas dua SD dan Tk. Lebih parah lagi Bintang mulai sering pulang telat.

 

Bintang

Aku tak menyangka Bunda bisa sedemikian marahnya waktu aku cerita aku suka sama pelatih basketku, Pak Beno. Tadinya aku juga ragu untuk cerita ke Bunda, aku takut Bunda tidak setuju. Perbedaan usia kami memang jauh. Umurnya mungkin tidak beda jauh dengan Bunda dan Papa Raka, sekitar 35 tahun. Tapi di mataku Pak Beno kelihatan masih muda dan jauh lebih tampan dibandingkan teman-teman cowokku di sekolah. Badannya yang tinggi tegap, dadanya yang bidang dan kulit cokelatnya membuat pak Beno kelihatan macho. Terus tatapan matanya yang tajam itu bisa bikin jantungku berdebar kencang. Gayanya cool abis deh.  Apalagi kalau lihat dia di lapangan basket, cara dia men-dribble, gayanya menembak bola….uugh keren banget.

Sehabis latihan dia sering ngobrol denganku, ngajak aku makan di kantin depan gelanggang tempat kami latihan. Beberapa kali aku memberanikan diri memintanya mengantarku pulang, dia juga tidak menolak. Senang rasanya bisa berboncengan naik motor sama Pak Beno.

“Bintang, kamu udah punya pacar?” Tanyanya sekali waktu.

“Belum” jawabku deg-degan. Jangan-jangan Pak Beno akan nembak aku. Tapi sayang dia hanya merespon dengan ucapan ooh yang panjang sambil mengangguk-angguk.

“Bapak udah punya Istri?” aku memberanikan diri bertanya.

“Belum” Pak Beno menggeleng.

“Pacar?” Aku jadi penasaran. Dia menggeleng lagi.

“Kenapa?” tanyaku lagi. Ada perasaan lega dihati.

Pak Beno mengangkat bahu “belum ketemu yang cocok aja” jawabnya singkat.

Sejak saat itu aku berharap besar bisa jadi pacarnya. Bahkan aku mengganti panggilanku dari Pak Beno jadi Mas Beno supaya lebih akrab. Awalnya sih dia terlihat terkejut, tapi tidak protes. Akhirnya teman-teman tim basket jadi ikut memanggilnya Mas Beno.

Aku tidak tahan untuk menyimpan cerita ini dari Bunda. Sejak kecil aku selalu cerita apapun sama Bunda karena Bunda asyik diajak ngobrol, walaupun kadang cerewet juga. Tapi ternyata Bunda marah besar. Belum pernah Bundah semarah ini padaku. Mungkin kalau aku cerita jatuh cinta sama temen sekolahku reaksi bunda tak akan seperti itu . Aku jadi malas ketemu Bunda karena kami jadi sering ribut. Bunda melarangku main basket, tapi aku tidak mau. Karena cuma saat latihan hari Rabu sore dan Minggu pagi itu aku bisa bertemu dengan Mas Beno.

 

Bulan

Aku sangat menyayangi Bintang. Penantianku cukup lama untuk bisa mendapatkan dia. Bintang adalah amanah Reva, sahabatku di SMA. Dia ibu kandungnya Bintang. Waktu Reva hamil usianya masih sangat muda, 18 tahun. Kami baru lulus SMA ketika itu. Dalam keadaan mabuk, kekasihnya merenggut kegadisan Reva di acara perpisahannya karena akan melanjutkan sekolah di Amerika.

            Keluarga Reva tidak mau peduli dengan kehamilan Reva. Reva memang berasal dari keluarga yang broken home. Dia anak tunggal, orangtuanya bercerai, dan Reva tinggal bersama ibunya yang sibuk berkarir. Tak lama setelah melahirkan dia meninggal dunia karena demam berdarah.

Saat-saat terakhirnya Reva berpesan agar aku merawat Bintang. Namun orangtuaku tidak mengijinkan aku untuk merawat Bintang karena aku saat itu masih sangat muda. Mereka juga takut kuliahku akan terganggu. Ibunya Reva juga tidak mau merawat cucunya itu. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan suami barunya. Kekasih Reva bahkan tidak tahu kalau Reva hamil. Kata Reva percuma diberitahu toh Ibunya melarang dia menikah. Akhirnya Bintang dititipi di panti asuhan.

            Setelah aku lulus kuliah dan bekerja barulah aku bisa mengambil Bintang dari panti, usianya 7 tahun waktu itu. Namun dalam rentang waktu selama aku kuliah, aku rutin menjenguk  Bintang. Jadi sejak bayi dia sudah mengenal dan dekat denganku.

            Setelah aku menikah dengan Raka, Bintang resmi kami adopsi. Aku beruntung memiliki Raka, dia mau menerima kehadiran Bintang. Walaupun dia bukan sosok ayah yang sempurna bagi Bintang, tapi aku tahu Raka juga menyayangi Bintang. Sifat Raka yang pendiam dan tertutup membuatnya sulit bersikap akrab pada Bintang. Apalagi pekerjaannya sebagai pilot mengharuskannya sering meninggalkan kami. Jadi bisa dibilang dia bukan ayah yang ada disetiap waktu.

Keadaan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Aku harus mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat. Aku tidak mau Bintang seperti Reva, hamil diluar nikah diusia muda. Aku harus mengawasinya. Walaupun menurut Raka tindakanku ini berlebihan, aku tidak peduli.

Diam-diam aku mendatangi gelanggang olahraga tempat Bintang latihan basket. Aku ingin tahu sosok pria yang telah membuat anak gadisku jatuh cinta.

Taxi yang kutumpangi parkir di luar halaman gelanggang. Dari dalam taxi aku bisa melihat di kejauhan Bintang dan kawan-kawannya baru selesai latihan. Dia berjalan dengan seorang pria sambil berbicang akrab, tertawa-tawa. Tangannya bergelayut manja pada bahu pria tersebut. Apakah itu pria yang dicintai Bintang. Aku yakin, dari bahasa tubuh Bintang, pria itulah yang telah menawan hati putriku yang baru menginjak remaja.

Aku terkejut ketika menyadari siapa pria itu. Tidak mungkin…tidak salah lagi…tubuhku terasa kaku, jatungku seakan berhenti berdetak. Bagaimana mungkin kebetulan ini bisa terjadi. Aku hampir tak percaya, kenapa harus dia…kenapa harus Beno!

 

Bintang

Mas Beno pergi. Pergi begitu saja tiba-tiba tanpa meninggalkan pesan apapun. Dia mendadak berhenti jadi pelatih basket kami. Padahal Rabu kemarin dia masih ada. Kata Pak Hanif pengurus klub, Mas Beno berhenti karena dia pindah kerja ke luar kota. Pak Hanif sendiri tidak tahu kemana pindahnya. Berkali-kali aku coba hubungi HPnya tapi selalu tidak aktif. Aku tak tahu kemana harus mencarinya. Aku kehilangan dia, aku kangen dia…kedua pipiku banjir air mata. Entah sudah keberapa kali aku menangis sejak tadi siang.

Aku mengunci diri dalam kamar. Tak kuhiraukan panggilan Bunda mengajakku makan siang. Apa ini yang namanya patah hati, sedih sekali rasanya. Kuingat-ingat pertemuan terakhir kami, rasanya tidak ada yang aneh. Bahkan selesai latihan, Mas Beno sempat berjanji akan mentraktir aku dan teman-teman di klub karena tim basket cewek menang dalam pertandingan antar klub.

Kulirik jam di meja sebelah tempat tidur, rupanya aku tertidur, sekarang sudah hampir jam 8 malam. Pintu kamarku diketuk perlahan. “Bintang, bisa buka dulu pintunya” Terdengar suara Papa Raka. “Papa mau bicara”

Kubuka pintu kamarku. Tumben Papa ke kamarku. Walaupun aku tahu Papa Raka sayang padaku namun hubungan kami tidak terlalu dekat. Mungkin karena dia hadir ketika usiaku sudah 8 tahun. Kami berdua duduk di tepi tempat tidur. Aku menunduk diam.

“Bintang, Papa tahu kamu lagi sedih. Tapi jangan berlarut-larut. Masalah yang kamu hadapi sekarang belum seberapa. Semakin kamu dewasa akan banyak lagi masalah yang lebih berat. Itulah hidup. Kamu harus kuat, jangan cengeng” Papa membelai rambutku. Ada perasaan aneh, canggung, karena belum pernah Papa bicara masalah pribadiku.

 “Tapi Bintang kecewa, Pa. Kenapa dia pergi tiba-tiba, kenapa dia nggak pamit ke Bintang” Kataku pelan, hampir terisak.

“Mungkin karena tidak sempat, mungkin dia punya urusan penting. Jangan terlalu dipikirkan nanti kamu tambah kecewa.” Jawab Papa santai. “Sana kamu makan dulu, dari siang kamu nggak makan. Sekalian temuin Bunda lagi di teras depan. Bunda cemas mikirin kamu”  Kata Papa seraya bangkit dari tempat tidur.

 “Bintang..” Papa diam sejenak. “Mungkin kamu hanya mengagumi pelatih basketmu itu, ya…seperti kebanyakan remaja seusia kamu biasa punya idola. Jadi jangan cepat menyimpulkan itu cinta”  Kemudian Papa berjalan keluar kamar. Aku jadi memikirkan kata-kata Papa. Sikap Papa yang santai dan bijaksana seakan melegakan hatiku.

 

Bulan

            Aku tahu Bintang pasti sedang sedih. Dia akan lebih terpukul lagi kalau tahu sebenarnya Beno adalah ayah kandungnya.

            Waktu itu aku langsung menemui Beno setelah Bintang dan teman-temannya pergi. Beno terkejut melihatku, rupanya dia masih mengenali aku. Wajahnya masih setampan dulu. Bahkan gurat-gurat kedewasaan diwajahnya membuatnya lebih menarik.

Beno lebih terkejut lagi lagi ketika mengetahui bahwa Bintang adalah adalah anaknya. “Aku tidak menyangka dia anakku” Beno seakan-akan tidak percaya. “Pantas wajahnya mengingatkanku pada Reva. Mata coklatnya sama seperti matanya Reva” Ujarnya lagi.

Beno mengakui kalau dia memang memberikan perhatian yang lebih kepada Bintang. “Entah kenapa aku merasa sayang pada anak itu. Sekarang aku baru sadar, Bulan, rasa sayang itu tumbuh karena dia anakku”           

Beno ingin sekali menemui Bintang, datang sebagai ayahnya. Dia ingin menebus dosa-dosanya karena telah menyia-nyiakan Bintang selama ini. Tapi aku melarangnya, belum saatnya kataku. Apalagi saat ini Bintang menganggapnya sebagai pria yang dia cintai.

            “Kamu harus pergi Beno, untuk sementara waktu, demi Bintang” aku memohon. “Sampai saat yang tepat untuk memberi tahu Bintang bahwa kamu ayahnya, baru kamu boleh menemuinya”

            Untung Beno mau mengerti. Dia minta aku berjanji untuk secepatnya mengabari dia kapan dia boleh menemui Bintang.

 

Bintang

            Aku menemui Bunda di teras. “Sini sayang” Bunda menggandeng tanganku “Lihatlah ke langit” Kami berdua menengadah, menatap langit. Sejauh mata memandang hanya ribuan bintang berkilau dan bulan bersinar penuh. “Ibumu yang memberimu nama Bintang. Katanya supaya hidupmu selalu bahagia sebagaimana dia merasa bahagia ketika memandang bintang-bintang di langit yang berkilau indah” Suara Bunda lembut terdengar. Genggaman tangan Bunda semakin erat.

            Kembali aku memandangi bintang-bintang di langit sembari meresapi kata-kata Bunda. Memang kilau bintang-bintang itu begitu indah. Aku membayangkan akulah salah satu bintang itu yang berpendar paling terang. Tiba-tiba ada sepercik rasa bahagia mengalir di hatiku. Kemudian kuamati cahaya bulan yang menerangi gelapnya malam. Hatiku merasa tentram. Aku menoleh ke samping, kudapati sepasang mata teduh Bunda memandangku penuh kasih. Ada kedamaian disana. Kami berdua berpelukan. Di langit bulan dan bintang-bintang bersinar indah.           

Panggil Aku Bunda

•May 13, 2008 • Leave a Comment

Tahajudku sudah selesai, sudah pula kupanjatkan doa memohon diberi ketenangan hati, namun isak tangisku tak juga mau berhenti. Ya Allah, aku sudah berusaha untuk ikhlas menerima cobaan ini. Bukankah apa yang sudah terjadi adalah takdir-Mu? Tetapi mengapa hatiku masih terasa pedih menerimanya. Apa kekuranganku ya Allah, sehingga Engkau tidak mempercayai aku untuk memiliki seorang anak. Tidak lengkap rasanya hidupku sebagai seorang wanita jika tidak bisa memiliki anak.

Tiga tahun sudah aku menikah, namun belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Tahun pertama, aku masih belum cemas. Aku masih menikmati kehidupan perkawinanku bersama suamiku, Mas Irfan. Dua belas bulan pertama adalah bulan madu bagi kami. Sepertinya kami ingin menebus waktu kami yang dulu seharusnya kami lewati bersama.

Continue reading ‘Panggil Aku Bunda’

Kala Senja

•May 12, 2008 • Leave a Comment

semburat jingga mengiringi datangnya senja

jiwa-jiwa yang lelah menyambut dengan senyum

membisikan asa pada senja

berharap malam menyelimuti mereka dengan kehangatan

dan embun pagi esok hari

meneteskan semangat menyambut hari baru

Kasmaran

•May 12, 2008 • Leave a Comment

Kamu dekat namun tak bisa ku gapai

kamu ku sentuh namun tak bisa ku rengkuh

kamu ku cinta namun tak bisa ku miliki

kamu ada namun tiada

Dalam Sunyi

•May 7, 2008 • Leave a Comment

Dalam sunyi

kulihat bayangnya bagaikan pohon tua

yang tak henti bergoyong ditiup angin kencang

namun tetap kokoh berdiri

dan aku tahu…

cintanya masih ada